Wirausahawan Sampah Plastik
Selasa, 6 Juli 2010 | 10:57 WIB
KOMPAS/KHAERUDIN
Baharuddin Sanian
Oleh KHAERUDIN
KOMPAS.com — Awalnya Baharuddin Sanian tengah mencari kemungkinan kerabatnya yang hilang atau meninggal akibat gempa dan gelombang tsunami. Sesampai di Banda Aceh, di antara ribuan mayat korban bencana dahsyat itu, ia termangu melihat tumpukan sampah berbagai jenis, dari besi hingga plastik.
Saat sampah mulai dibersihkan, Baharuddin heran. Tak banyak orang mau memunguti sampah plastik. Pemulung tak banyak yang mau mengambil sampah plastik. ”Mungkin karena nilainya rendah, sampah plastik tak banyak yang mengambil. Berbeda dengan besi yang harganya mahal kalau dijual kembali,” katanya.
Timbul niat Baharuddin untuk ikut membersihkan sampah plastik karena sadar plastik tak mudah terurai. Ia lalu belajar kepada pemulung bagaimana memanfaatkan sampah plastik. Dia berkenalan dengan Dardak, agen pemulung di Banda Aceh. Dari Dardak ia tahu, sampah plastik hanya dimanfaatkan ala kadarnya. Pemulung di Aceh menggolongkan sampah plastik dalam dua jenis, atom plastik dan cong atau samsam.
Atom plastik berupa bekas kemasan air berbentuk gelas, kursi plastik, hingga bekas ember. Adapun cong atau samsam merupakan campuran berbagai sampah plastik. Penggolongan yang sederhana itu membuat nilai sampah plastik saat dijual ke agen atau pengepul sangat murah.
Baharuddin yang penasaran dengan sampah plastik mencoba mencari tahu lewat internet. Dia kemudian tahu, sampah plastik, seperti halnya ketika masih berupa bahan jadi plastik, terdiri dari berbagai jenis. Sampah plastik pun dibedakan sesuai senyawa kimia pembentuknya. ”Di internet saya tahu, sampah plastik secara garis besar ada tujuh jenis.”
Tujuh jenis itu adalah PET (polyethylene therephthalate) yang biasanya berupa botol air mineral; HDPE (high density polyethylene) berupa botol oli, kosmetik hingga keresek; PVC (polyvinyl chloride) berupa pipa dan bahan konstruksi; LDP (low density polyethylene) berupa tutup botol air kemasan galon; PP (polypropylene) berupa kemasan air dalam gelas hingga peralatan makan; PS (polystyrene) biasanya styrofoam; dan HIPC (high impact plastic cover) untuk perangkat elektronik.
Harga tiap jenis sampah plastik itu berbeda-beda. Sayang, lanjut Baharuddin, pemulung tak tahu jenis-jenis sampah plastik karena mereka menggolongkannya secara sederhana. Dia mencontohkan, satu bekas kemasan botol air minum terdiri dari empat jenis plastik. ”Botolnya itu PET, labelnya PP, tutupnya HDPE, dan segelnya PVC.”
Jika pemulung memilah keempat jenis plastik dalam satu botol kemasan air minum, maka mereka bakal mendapatkan uang lebih saat menjualnya ke agen. Umumnya pemulung tak pernah memilahnya. Akibatnya, agen menyamaratakan harga beli.
”Bekas gelas air minum kemasan kalau sudah dibersihkan dari penutupnya harganya bisa Rp 6.500 per kilogram. Kalau penutupnya dibersihkan seadanya, paling dihargai Rp 4.500,” ujar Baharuddin.
Harga bekas kemasan gelas plastik air minum yang dibersihkan penutupnya bisa mahal karena seluruhnya terdiri dari PP. Sebagai insinyur teknik mesin, ia berinovasi menciptakan mesin yang dapat membersihkan penutup kemasan air minuman dalam gelas plastik.
”Kami menyebutnya PP bening. Bila dicacah dan dijadikan bijih plastik, bisa untuk bahan pembuat kantong plastik berkualitas tinggi. Ini membuat bekas gelas plastik air minum menjadi mahal. Kalau gelas plastiknya tak bersih, masih ada sisa penutupnya, maka kualitas bijih plastiknya jelek,” katanya.
Satu mimpi Baharuddin yang belum terwujud adalah mendirikan pabrik pengolahan sampah plastik menjadi barang jadi.
Mendirikan PPRF
Baharuddin pun berniat membagi pengetahuannya kepada pemulung meskipun oleh teman dekat dan keluarga ia dianggap ”gila”. Sudah enak bekerja di Exxon, malah sibuk mengurus pemulung. Lima bulan setelah bencana tsunami di Aceh, Mei 2005, ia mendirikan yayasan, Palapa Plastic Recycle Foundation (PPRF) di Lhokseumawe.
Dibantu Dardak, PPRF menjadi semacam agen atau pengepul sampah plastik. Dardak meminta anak buahnya menjual sampah plastik ke PPRF. Para pemulung lalu diajarkan memilah berbagai jenis sampah plastik sesuai dengan senyawa kimianya.
PPRF juga membeli sampah plastik lebih mahal dibanding agen pemulung lain di Lhokseumawe karena pemulung telah memilah berbagai jenis sampah sesuai senyawa kimianya.
Ini membuat banyak pemulung menjual sampah plastik ke PPRF. Ia juga belajar, kebanyakan agen pengumpul di Aceh mengirim rongsokan plastik ke Medan tanpa dicacah atau di-grinding sehingga kendaraan pengangkut tak bisa memuat banyak sampah plastik. Lewat internet, ia mengenal seorang pengusaha pencacahan sampah plastik di Bekasi. Dia lalu membeli mesin pencacah sampah plastiknya.
Selain menjadi tempat penampungan sampah plastik para pemulung di Lhokseumawe, PPRF mempekerjakan masyarakat sekitar tempat penampungan di Panggoi, Lhokseumawe, untuk memilah sampah plastik. ”Pemulung memilah secara kasar, pekerja di penampungan memilah lebih detail.”
Kini, sekitar 100 pemulung menjual sampah plastik ke PPRF. Kegiatan PPRF pun menarik lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional yang beroperasi di Aceh. Mereka menilai PPRF membantu memberdayakan masyarakat miskin di Aceh.
”Ada anggapan di Aceh ini, pekerjaan pemulung itu ’rendahan’ sehingga tak banyak yang mau. Padahal kalau tahu potensinya, pemulung juga bisa menghidupi keluarga dengan layak,” kata Baharuddin.
Juni 2006, LSM asal Belanda, PUM Nederland, memberi bantuan mesin grinding berkapasitas 50 ton per bulan. Bantuan ini sebagian hibah, sekitar 30 persen sisanya pinjaman lunak selama lima tahun. Pada 2007, LSM lain dari Belanda membantu PPRF mendirikan 20 rumah bagi pemulung di sekitar lokasi pabrik pencacahan sampah plastik.
Upayanya memberdayakan pemulung dengan PPRF membuat dia dinilai sebagai social entrepreneur. Tahun 2007, Auscare dan UNDP memberi hibah PPRF Rp 1,6 miliar untuk membangun pabrik pencacahan sampah plastik di Banda Aceh.
Sayang, upaya Baharuddin belum dihargai pemerintah daerah. Saat menawarkan program penanganan sampah anorganik di Lhokseumawe, pemerintah daerah malah minta bantuan pengadaan tong sampah ke PPRF.
Satu mimpi Baharuddin yang belum terwujud adalah mendirikan pabrik pengolahan sampah plastik menjadi barang jadi.
”Pabrik untuk mengolah sampah plastik yang telah berupa bijih menjadi barang jadi, seperti kantong keresek hingga tali rafia. Selama ini sampah plastik dari Aceh dibawa ke Medan, diolah menjadi barang jadi, lalu dikirim lagi ke Aceh,” katanya.
Selasa, 06 Juli 2010
Rabu, 19 Mei 2010
Pengusaha: Ada Tiga Tugas Pokok Agus
Pengusaha: Ada Tiga Tugas Pokok Agus
Kamis, 20 Mei 2010 | 07:51 WIB
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Sofjan Wanandi.
TERKAIT:
* Soal Dirut Mandiri, Hatta Belum Tahu
* SBY's Move Following Shock Resignation of Sri Mulyani
* Agus Dikenal Tegas dan Berani
* Agus Menkeu, Respon Pasar Bakal Positif
* Kadin Dukung Agus M Jadi Menkeu Baru
* GramediaShop: You Lost Him At Hello - Strategi Saleswoman Untuk Meraih Komitmen Kaum Pria
* GramediaShop: Advertising That Sells
JAKARTA, KOMPAS.com — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) berharap Menteri Keuangan Agus Martowardojo berani menghadapi tekanan politik, melanjutkan reformasi pajak dan bea cukai, serta meningkatkan koordinasi strategis dengan kementerian lainnya.
"Setidaknya tiga tugas pokok itu yang menjadi fokus menteri keuangan yang baru," kata Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi seperti dikutip Antara di Jakarta, Kamis (20/5/2010) pagi.
Menurut Sofjan, untuk memimpin Kementerian Keuangan dibutuhkan sosok yang berani dan tegas menghadapi tekanan politik serta intervensi dari berbagai kalangan.
Tekanan politik, terutama dari parlemen, sangat kental ketika akan mengambil kebijakan fiskal dan moneter, termasuk saat pengambilan keputusan dalam penyusunan APBN. "Agus harus mampu membina hubungan baik dengan DPR sehingga setiap kebijakan keuangan negara tepat sasaran dan tepat waktu," katanya.
Pekerjaan rumah lainnya adalah konsisten melanjutkan reformasi birokrasi, terutama pada Direktorat Pajak dan Bea Cukai, sebagai salah satu fokus yang sudah dijalankan oleh pendahulunya.
Dua direktorat ini sudah terbukti menjadi "sarang korupsi" yang menghambat sekaligus memicu ekonomi biaya tinggi.
Agus harus tegas dan berani menolak setiap pengajuan anggaran kementerian dan lembaga yang dinilai tidak perlu demi tercapainya transparansi penggunaan anggaran.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Rabu malam di Cikeas, Bogor, mengumumkan Agus Martowardojo sebagai Menkeu menggantikan Sri Mulyani Indrawati yang segera menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia mulai Juni 2010. Agus Martowardojo sebelum ditunjuk menjadi orang pertama di Kementerian Keuangan menjabat Direktur Utama Bank Mandiri.
Menurut Sofjan, Agus memiliki pengalaman di bidang perbankan yang tecermin dari sukses membesarkan sejumlah bank, termasuk Bank Mandiri. "Saya rasa Agus mengerti betul pengelolaan moneter, termasuk bagaimana menggerakkan sektor riil karena perbankan identik dengan pembiayaan untuk mendorong dunia usaha," katanya.
"Agus menguasai betul soal mikro, tetapi kemampuan di bidang makro harus cepat dipelajari," katanya.
Meski begitu, pria kelahiran Amsterdam, Belanda, 24 Januari 1956, ini memiliki kelemahan seperti tidak pengalaman di birokrasi.
Sofjan berpendapat, Kementerian Keuangan merupakan kementerian yang super sehingga butuh orang yang memiliki kemampuan superkomplet pula.
Untuk itu, konsolidasi langsung dengan para direktur jenderal di Kementerian Keuangan segera dilakukan agar berbagai target pertumbuhan ekonomi dan asumsi makro dalam APBN dapat tercapai.
Kamis, 20 Mei 2010 | 07:51 WIB
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Sofjan Wanandi.
TERKAIT:
* Soal Dirut Mandiri, Hatta Belum Tahu
* SBY's Move Following Shock Resignation of Sri Mulyani
* Agus Dikenal Tegas dan Berani
* Agus Menkeu, Respon Pasar Bakal Positif
* Kadin Dukung Agus M Jadi Menkeu Baru
* GramediaShop: You Lost Him At Hello - Strategi Saleswoman Untuk Meraih Komitmen Kaum Pria
* GramediaShop: Advertising That Sells
JAKARTA, KOMPAS.com — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) berharap Menteri Keuangan Agus Martowardojo berani menghadapi tekanan politik, melanjutkan reformasi pajak dan bea cukai, serta meningkatkan koordinasi strategis dengan kementerian lainnya.
"Setidaknya tiga tugas pokok itu yang menjadi fokus menteri keuangan yang baru," kata Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi seperti dikutip Antara di Jakarta, Kamis (20/5/2010) pagi.
Menurut Sofjan, untuk memimpin Kementerian Keuangan dibutuhkan sosok yang berani dan tegas menghadapi tekanan politik serta intervensi dari berbagai kalangan.
Tekanan politik, terutama dari parlemen, sangat kental ketika akan mengambil kebijakan fiskal dan moneter, termasuk saat pengambilan keputusan dalam penyusunan APBN. "Agus harus mampu membina hubungan baik dengan DPR sehingga setiap kebijakan keuangan negara tepat sasaran dan tepat waktu," katanya.
Pekerjaan rumah lainnya adalah konsisten melanjutkan reformasi birokrasi, terutama pada Direktorat Pajak dan Bea Cukai, sebagai salah satu fokus yang sudah dijalankan oleh pendahulunya.
Dua direktorat ini sudah terbukti menjadi "sarang korupsi" yang menghambat sekaligus memicu ekonomi biaya tinggi.
Agus harus tegas dan berani menolak setiap pengajuan anggaran kementerian dan lembaga yang dinilai tidak perlu demi tercapainya transparansi penggunaan anggaran.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Rabu malam di Cikeas, Bogor, mengumumkan Agus Martowardojo sebagai Menkeu menggantikan Sri Mulyani Indrawati yang segera menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia mulai Juni 2010. Agus Martowardojo sebelum ditunjuk menjadi orang pertama di Kementerian Keuangan menjabat Direktur Utama Bank Mandiri.
Menurut Sofjan, Agus memiliki pengalaman di bidang perbankan yang tecermin dari sukses membesarkan sejumlah bank, termasuk Bank Mandiri. "Saya rasa Agus mengerti betul pengelolaan moneter, termasuk bagaimana menggerakkan sektor riil karena perbankan identik dengan pembiayaan untuk mendorong dunia usaha," katanya.
"Agus menguasai betul soal mikro, tetapi kemampuan di bidang makro harus cepat dipelajari," katanya.
Meski begitu, pria kelahiran Amsterdam, Belanda, 24 Januari 1956, ini memiliki kelemahan seperti tidak pengalaman di birokrasi.
Sofjan berpendapat, Kementerian Keuangan merupakan kementerian yang super sehingga butuh orang yang memiliki kemampuan superkomplet pula.
Untuk itu, konsolidasi langsung dengan para direktur jenderal di Kementerian Keuangan segera dilakukan agar berbagai target pertumbuhan ekonomi dan asumsi makro dalam APBN dapat tercapai.
Langganan:
Postingan (Atom)